Pada suatu jemu, aku duduk di ambang pintu.
Ditemukan kamu, harusnya aku berpura bisu.
Pergilah! kataku.
Datang ah! katamu.
Wah, gila!
Seorang kamu datang padaku!
Wah, gila!
Seorang aku dikecup kamu!
Seorang kamu datang padaku!
Wah, gila!
Seorang aku dikecup kamu!
Padahal dulu aku dan kamu sudah tak tau.
Kenapa karena bagaimana saja menurutmu.
Kenapa karena bagaimana saja menurutmu.
Lalu kamu memanggil rasa yang sudah tak ada.
Permisi, minta ijin mau tertawa.
Ah, sudahlah, ini sudah malam, aku dan kamu harus terpejam, kataku.
Ah, belumlah, ini baru malam, kamu dan aku kenapa berdiam, katamu.
Ah, belumlah, ini baru malam, kamu dan aku kenapa berdiam, katamu.
Ketika itu malam hari, kamu mengecup jantung yang lama mati.
Lalu jarimu nekat menari, telusuri jalan berliku menghapus sepi.
Entahlah, haruskah aku terbenam saja di cakrawala tubuhmu.
Tiba-tiba saja keluar namaku satu-persatu dari jeritmu.

