Kamis, 05 Desember 2019

Pada Suatu Jemu (puisi)


Pada suatu jemu, aku duduk di ambang pintu.
Ditemukan kamu, harusnya aku berpura bisu.

Pergilah! kataku.
Datang ah! katamu.

Wah, gila!
Seorang kamu datang padaku!
Wah, gila!
Seorang aku dikecup kamu!

Padahal dulu aku dan kamu sudah tak tau.
Kenapa karena bagaimana saja menurutmu.
Lalu kamu memanggil rasa yang sudah tak ada.
Permisi, minta ijin mau tertawa.

Ah, sudahlah, ini sudah malam, aku dan kamu harus terpejam, kataku.
Ah, belumlah, ini baru malam, kamu dan aku kenapa berdiam, katamu.

Ketika itu malam hari, kamu mengecup jantung yang lama mati.
Lalu jarimu nekat menari, telusuri jalan berliku menghapus sepi.
Entahlah, haruskah aku terbenam saja di cakrawala tubuhmu.
Tiba-tiba saja keluar namaku satu-persatu dari jeritmu.


Sakit (puisi)


Berputar-putar kutelusuri jalan setapak menuju tubuhmu.
Di persimpangan jalan aku tersesat, berputar-putar hingga berkeringat.

Waktu itu malam hari, jalanan terasa lengang dan sunyi.
Kukayuh bulan separuh di lereng tubuhmu yang agak menikung, pelan-pelan sekali kupetik aduhmu, satu-persatu.

Malam menyembunyikan aku di balik baju, bersama aduhmu aku bertarung, di dalam erangmu aku terkurung.
Seperti seorang tentara yang bersembunyi, menghindari letupan peluru, menggali kesunyian di pedalaman tubuhmu.

Di rimba ranjang yang berderit, kau meremas lenganku sembari merintih, "sakit"...