Senin, 11 Agustus 2025

Keutamaan berkumpul untuk membaca Al-Qur'an dan dzikir

 

Keutamaan berkumpul

untuk membaca Al-Qur'an dan dzikir



Hadits Arbain Nawawi, 36

Shahih Muslim, 4867


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفْسَ اللهُ عَنْهُ كُرْيَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ

يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأ

عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ


Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah telah bersabda: 'Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.'

Rabu, 04 Juni 2025

Minta tolonglah dengan sabar dan shalat

 


وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Minta Tolonglah Dengan Sabar & Shalat

(Oleh : Mahtum Ali Samhari)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ


Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Surat al Baqarah: 153)


Sabar itu tidak berhenti, penuh perjuangan dan perlu waktu, balasan- nya sorga. Contohnya dalam hadits Ibnu Abbas :


الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ

دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ


Wanita berkulit hitam ini, dia pernah menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata;


"Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku."


Beliau bersabda: "Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu berkenan, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu."


Ia berkata: "Baiklah aku akan bersabar." (Shahih al Bukhari : 5220)


Ada tuntunan do'a. Dari hadits Abu Daud : 4426


اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي ، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ


ALLAHUMMA 'AAFINII FII BADANII - ALLAHUMMA 'AAFINII FII SAM'II - ALLAHUMMA 'AAFINII FII BASHARII

LAA ILAAHA ILLA ANTA


(Ya Allah, perbaikilah tubuhku, perbaikilah pendengaranku, perbaikilah penglihatanku, tidak ada Tuhan selain Engkau).

Senin, 02 Juni 2025

Berqurban

 


Kajian Kita Pekan Ini. Boja, 2 Juni 2025


Sirotol Mustaqim Berqurban


Firman Allah :


إنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (۱) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)


Surat al Kautsar :

1. Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. 

2. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah

3. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).


Sunan Ibnu Majah : 3114


عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحَ فَلَا يَقْرَيَنَّ مُصَلَّانَا


Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa memiliki keluasaan (untuk berkorban) namun tidak berkorban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami."


Apa Yang Harus Dilakukan

Oleh Mudlohhi / Yang Berqurban


مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ) أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ، وَيَبْرُكُ في سَوَادٍ، وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ لِيُضَحِيَ بِهِ، فَقَالَ: اِشْحَذِي الْمُدْيَةَ ثُمَّ أَخَذَهَا, فَأَضْجَعَهُ, ثُمَّ ذَبَحَهُ، وَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ. وَمِنْ أُمَّةٍ مُحَمَّدٍ )


Menurut Muslim dari hadits 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa beliau pernah menyuruh dibawakan dua ekor kambing gibas bertanduk yang kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewan itu kepada beliau. Beliau bersabda kepada 'Aisyah: "Wahai 'Aisyah, ambillah pisau."


Kemudian bersabda lagi: "Asahlah dengan batu." 'Aisyah melaksanakannya. Setelah itu beliau mengambil pisau dan kambing, lalu membaringkannya, dan menyembelihnya seraya berdoa:


"Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya." Kemudian beliau berkurban dengannya.


عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الصَّحَايَا فِيكُمْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَحِي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ

وَيُطْعِمُونَ ثُمَّ تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَ كَمَا تَرَى


Dari 'Atha bin Yasar dia berkata, "Saya bertanya kepada Abu Ayyub Al Anshari, "Bagaimanakah dengan hewan kurban kalian pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?" dia menjawab, "Pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, seseorang berkurban dengan seekor kambing untuk dirinya sendiri dan keluarganya, lalu mereka memakan (sebagiannya) dan memberi makan kepada orang lain sehingga orang- orang pun bergembira karenanya. Dan hal itu terus berlanjut sebagaimana yang kamu lihat. (Ibnu Majah, 3138)


Boleh mewakilkan.

Ali bin Abi Thalib berkata:


أَمَرَنِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ أَقْوَمَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أُقَسَمَ لُحُومَها وَجُلُودَهَا وَجلَالَها عَلَى الْمَسَاكِينِ وَلَا أُعْطِيَ فِي جَزَارَتهَا مِنْهَا شَيْئاً


Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kepadaku untuk mengurusi kurban-kurbannya; membagi-bagikan daging, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi suatu apapun dari kurban kepada penyembelihnya. (Muttafaq Alaihi).

Senin, 16 Desember 2024

(cerpen) Dr. Emma




Di sebuah malam gelap, seorang detektif muda bernama Axel mendapat kasus misterius: hilangnya seorang ilmuwan terkenal, Dr. Emma, dari laboratorium rahasia di pinggiran kota.


Sesosok monster mengintip dari celah lubang paku dari loteng. Mata merahnya menyala dalam kegelapan, mengawasi Axel yang sedang menyelidiki ruang kosong Dr. Emma. Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari atas, membuatnya merinding.


Monster berubah wujud menjadi seekor nyamuk, terbang ke arah Axel dan hinggap di rambutnya. Axel merasa kulitnya merinding dan mencoba mengusir nyamuk itu, tapi nyamuk tersebut malah berbicara dengan suara pelan: "Detektif Axel, kamu tidak akan pernah menemukan Dr. Emma hidup-hidup lagi."


Lalu monster yang berubah jadi nyamuk itu menancapkan jarum di kepala Axel, menghisap otaknya hingga habis. Kepala Axel terasa sakit tak tertahankan, matanya memutih, dan tubuhnya limbung. Saat itu, dia melihat bayangan Dr. Emma di dinding, dengan mata kosong dan mulut terbuka lebar, berteriak: "Kamu tidak akan pernah keluar dari sini!"


Axel meninggal. Detektif baru ditugaskan untuk melanjutkan penyelidikan. Detektif baru itu adalah seorang wanita muda yang sangat cantik. Detektif wanita muda itu, bernama Maya, memiliki reputasi sebagai penyelidik ulung dan tidak takut menghadapi bahaya. Saat memasuki laboratorium, dia menemukan catatan terakhir Axel: "Nyamuk... Dr. Emma... Otak..." Maya merasa ada yang tidak beres.


Maya mengandalkan indra penciumannya yang tajam untuk menyelidikinya. Maya mencium aroma aneh, seperti campuran bahan kimia dan sesuatu yang membusuk. Dia mengikuti aroma tersebut ke loteng, tempat monster nyamuk pertama kali muncul. Di sana, dia menemukan laboratorium rahasia Dr. Emma dengan tulisan "Proyek Reinkarnasi" di dinding.


Maya berfikir serius untuk mencari tahu maksud dari kalimat itu. Dan akhirnya Maya menjadi semakin penasaran. Rasa penasaran Maya semakin menggebu, dia memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut dan menemukan ruang bawah tanah tersembunyi di balik dinding laboratorium. Dia menemukan catatan Dr. Emma yang berisi rencana menggabungkan DNA manusia dengan serangga untuk menciptakan makhluk super.


Maya menjadi semakin kebingungan. Akhirnya Maya memanggil seorang teman untuk membantunya memecahkan teka-teki ini. Teman Maya, seorang ahli genetika bernama Dr. Ryan, datang ke lokasi dan terkejut dengan temuan Maya. "Ini tidak mungkin!" kata Dr. Ryan. "Teknologi ini belum ada di dunia ini. Apakah Dr. Emma bekerja sama dengan organisasi rahasia?"


"Tidak, tapi aku curiga, jangan-jangan ini adalah ulah dari salah satu makhluk yang datang dari masa depan. Karena selama saya hidup, saya belum pernah melihat peralatan-peralatan canggih seperti yang kita lihat di ruangan ini". 


Dr. Ryan terdiam, matanya memandang ke sekeliling ruangan. "Mungkin kamu benar, Maya. Ini bisa jadi koneksi dengan proyek waktu yang hilang. Apakah kita sedang berhadapan dengan konsekuensi perjalanan waktu?"


"bisa jadi, karena tujuan mereka adalah proyek reinkarnasi" kata Maya dengan terbata-bata. Suara Maya bergetar ketakutan. Dr. Ryan mendekatinya, "Maya, kita harus berhati-hati. Jika benar mereka dari masa depan, maka kita sedang berhadapan dengan teknologi yang tidak terbayangkan. Apakah kamu siap menghadapi konsekuensi ini?"


Tiba-tiba monster itu datang dan menyerang mereka. Maya tergigit hingga kepalanya hilang. Dr. Ryan berteriak ketakutan, melompat ke belakang saat melihat Maya tergigit. Darah muncrat dari leher Maya, dan tubuhnya terjatuh ke lantai. Dr. Ryan berlari ke pintu, tapi terlambat. Monster itu mengejarnya, dan dia merasakan gigitan yang sama...


Pasukan dari CAI dikerahkan untuk menangkap monster itu. Pasukan CAI, dipimpin oleh Kapten Jackson, memasuki laboratorium dengan senjata khusus. Mereka menemukan Dr. Ryan tergeletak, nyaris tidak bernapas. "Kita harus menyelamatkan Dr. Ryan!" teriak Kapten Jackson.


Monster itu muncul, dan pasukan CAI membuka tembakan. Namun, peluru tidak berpengaruh. Monster itu terus mendekat...


Tubuh monster itu seperti karet yang tak mungkin bisa dikalahkan hanya menggunakan senapan ataupun bom. Kapten Jackson memerintahkan pasukannya mundur. "Kita butuh senjata khusus untuk menghentikan monster ini!" Dia menghubungi markas, meminta bantuan tim ilmiah untuk menganalisis kelemahan monster tersebut.


Saat itu, seorang ilmuwan muda, Dr. Samantha, memantau peristiwa tersebut dari jauh. Dia memiliki teori tentang kelemahan monster itu...


Dr. Samantha memerintahkan seorang pasukan untuk mendapatkan raket nyamuk karena Dr. Samantha memprediksi bahwa monster itu masih satu spesies dengan nyamuk.


Pasukan CAI kembali ke laboratorium dengan raket nyamuk. Dr. Samantha menjelaskan strateginya: "Raket ini dilengkapi dengan frekuensi ultrasonik yang dapat mengganggu sistem saraf nyamuk. Mungkin saja efektif melawan monster ini."


Kapten Jackson memerintahkan pasukannya untuk menembakkan raket tersebut. Suara ultrasonik menggema, dan monster itu terhenti, bergetar, lalu mulai melemah...


Tak lama kemudian monster itu berubah wujud menjadi sosok Dr. Emma. Dr. Emma berdiri, terlihat lemah dan bingung. Matanya kosong, seperti kehilangan ingatan. Kapten Jackson mendekatinya dengan hati-hati.


"Dr. Emma, apa yang terjadi?" tanya Kapten Jackson.


Dr. Emma memandang sekitar, seperti mencari sesuatu. "Apa... apa yang saya lakukan?" katanya pelan.


Disaat itu pula laboratorium itu meledak dan tak ada satu orangpun yang selamat. Ledakan dahsyat menghancurkan laboratorium, meninggalkan puing-puing dan keheningan maut. Semua bukti dan jejak proyek rahasia Dr. Emma musnah.


Keesokan harinya, berita ledakan laboratorium CAI menjadi headline utama. Masyarakat terkejut dan penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu laboratorium tersebut.

Minggu, 15 Desember 2024

(cerpen) Hutan Itu




Di sebuah kota kecil, ada seorang gadis cantik bernama Luna. Suatu hari, dia menemukan sebuah kotak misterius di rumah kakeknya.


Lalu Luna membuka kotak misterius itu, matanya terbelalak ketika menemukan isinya. Sebuah cincin emas dengan permata merah yang berkilauan, serta surat tua yang terlipat rapi dengan tulisan: "Untuk Luna, dari orang yang pernah mencintaimu."


Luna penasaran dan mencoba mengingat masa lalu, Luna menebak nebak sosok penulis surat itu. Tiba-tiba, kenangan masa lalu Luna muncul, saat-saat bersama Alex, teman masa kecilnya yang menghilang tanpa jejak.


Luna berlari pulang untuk menemukan foto dirinya bersama Alex semasa kecil dulu. Saat mencari foto tersebut, Luna menemukan album lama yang tersembunyi di bawah tempat tidur. Di halaman terakhir album, ada foto mereka berdua dengan tulisan: "Selamanya bersama."


Luna menangis sekuat tenaga. Rasa rindu, cinta dan kenangan indah meluap lewat teriakannya. Tangisnya terhenti saat terdengar ketukan lembut di pintu. Luna membuka pintu, dan di sana berdiri Alex dengan senyum lembut dan mata yang berbinar.


Alex yang sekarang sangat berbeda. Alex yang sekarang bertubuh tinggi dan gagah, lebih tampan. Luna terpesona, mata mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Alex mengucapkan kata-kata yang sudah lama dinanti: "Luna, aku kembali untukmu."


Luna menjawab: "Aku selalu menunggu hadirmu".


Alex tersenyum, lalu meraih tangan Luna dan menariknya ke dalam pelukannya yang hangat. Mereka berdua terdiam, merasakan kebahagiaan yang sudah lama tertunda.


Luna: "Alex, apakah kamu meninggalkan cincin ini untukku?". Luna menunjukkan cincin yang ditemukannya tadi.


Alex mengangguk, mataanya berkilauan: "Ya, aku tinggalkan cincin itu agar kamu tahu aku tidak pernah melupakanmu. Aku janji akan kembali dan membuatmu bahagia selamanya."


Luna memeluk Alex dan menciumnya. Alex membalas pelukan dan ciuman Luna dengan penuh gairah, hati mereka berdua akhirnya bersatu kembali setelah sekian lama berpisah.


Luna: "Alex, jangan pergi lagi, kumohon temanilah aku walau hanya malam ini".


Alex tersenyum lembut, memeluk Luna erat, dan berbisik: "Aku tidak akan pergi lagi, malam ini, besok, dan selamanya, aku akan bersamamu."


Luna meraba pipi Alex, menciumnya, mendorongnya ke sofa. Gerimis di luar jendela menambah romantisnya suasana. Luna melepas kancing baju Alex, satu per satu.


Luna dan Alex duduk bersisian di sofa, menikmati keheningan malam. Gerimis di luar menambah kesan hangat dan intim.


Tiba-tiba pintu digedor, seorang wanita cantik datang mencari Alex.


Wanita itu memiliki ekspresi kesal dan sedih. "Alex, aku mencarimu kemana-mana," katanya dengan suara bergetar. "Apa yang terjadi antara kita berdua?"


Luna mengernyitkan dahi sambil berkata dalam hati "siapa wanita itu? Kenapa dia bisa di sini? ". Luna menatap Alex dengan mata bertanya, mencari jawaban atas kehadiran wanita misterius itu. Alex terlihat terkejut dan tidak nyaman, berusaha menjelaskan sesuatu.


Luna: "tolong katakan sesuatu, Alex".


Alex mengambil napas dalam-dalam, lalu berkata: "Luna, aku harus menjelaskan. Dia... dia adalah Sophia, mantan pacarku. Kami putus beberapa bulan lalu, tapi sepertinya dia belum bisa melupakan aku."


Luna: "aku kecewa, kukira kau benar-benar menungguku, kukira hanya aku".


Alex berjalan mendekati Luna, mata mereka beradu. "Luna, jangan salah paham. Aku benar-benar menunggumu, dan aku hanya mencintaimu. Sophia memang bagian dari masa laluku, tapi kamu adalah masa depanku."


Luna berlari membuka jendela lalu melompat keluar, ledakkan tangisnya mengalir deras bersama hujan. Luna berlari sangat kencang, lalu menghilang ditelan kabur tebal.


Alex terkejut, berlari ke jendela, memanggil nama Luna dengan suara putus asa. "Luna! Kembalilah! Aku mencintaimu!" Hujan semakin deras, mengaburkan pandangannya. Ia berlari keluar, mencari Luna di antara kabut tebal, tapi sudah terlambat. Luna telah menghilang.


Luna berlari ke tengah hutan dengan sempoyongan. Tiba tiba tercebur ke genangan lumpur hidup. Luna terjebak dalam lumpur tebal, tidak bisa bergerak. Hujan deras membuat lumpur semakin dalam dan licin. Ia menangis, merasa terjebak dalam kesedihan dan keputusasaan. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat.


Seekor beruang melemparkan akar pohon ke arah luna. Luna memandang ke atas, melihat beruang besar mengulurkan akar pohon. Dengan refleks cepat, ia meraih akar itu dan beruang tersebut menariknya keluar dari lumpur. Luna terengah-engah, menatap beruang dengan rasa terima kasih. Tiba-tiba, beruang itu berubah menjadi sosok yang familiar.


Luna terkejut, mataanya berbinar. "Bruang... Bruang Koko? Apakah benar kamu?" Bruang Koko mengangguk, matanya bersinar dengan kenangan lama. Luna memeluknya erat, air mata bahagia mengalir. "Kakek pasti ingin kita bertemu lagi," katanya lembut.


Beruang itu mengajak Luna ke sungai dan mengisyaratkan Luna untuk membersihkan tubuh. Ketika Luna sibuk membersihkan diri, beruang itu mencari ikan di sungai itu.


Setelah selesai membersihkan diri, Luna duduk di tepi sungai, merasa segar dan lega. Bruang Koko kembali dengan ikan besar di mulutnya. Ia meletakkan ikan itu di depan Luna dan duduk di sampingnya, menatap sungai dengan mata bijak. Luna tersenyum, merasa hangat dan aman bersama teman lama itu. "Terima kasih, Bruang Koko," katanya, memeluk lembut beruang itu.


Beruang mengisyaratkan pada Luna untuk mengikutinya. Ternyata beruang mengajaknya ke sebuah gua yang selama ini menjadi rumah beruang itu.


Luna mengikuti Bruang Koko ke dalam gua yang hangat dan nyaman. Di dalamnya, terdapat sarang yang rapi dan bersih, serta beberapa benda peninggalan kakeknya. Luna terharu, menyadari bahwa Bruang Koko telah menjaga kenangan mereka bersama dengan baik. Bruang Koko menunjukkan sebuah foto tua, di mana kakeknya dan beruang itu terlihat bersama. Luna tersenyum, merasa hubungan keluarganya kembali kuat.


Tiba-tiba seekor beruang kecil masuk. Beruang kecil itu berlari menuju Bruang Koko, melompat ke pangkuannya, dan menjilat wajahnya. Luna tersenyum, melihat keakraban antara Bruang Koko dan anaknya. "Ini adalah anakmu, ya?" tanya Luna. Bruang Koko mengangguk, menunjukkan ekspresi bangga. Luna membelai anak beruang itu, merasa kehangatan dan kebahagiaan.


Luna: "di mana ibunya?". Namun beruang itu malah bersedih dan meneteskan airmatanya.


Luna terkejut, melihat kesedihan mendalam di mata Bruang Koko. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan lembut. Bruang Koko menunduk, menggosokkan wajahnya ke lantai gua, menunjukkan kesedihan yang mendalam. Luna memeluk beruang itu, merasakan dukacita yang tak terucapkan. "Ibunya... meninggal?" tanya Luna pelan. Bruang Koko mengangguk, air matanya tetap mengalir.


Luna: "biarkan aku menjadi ibunya".


Bruang Koko menatap Luna dengan mata basah, kemudian memeluknya erat. Anak beruang kecil itu juga merangkak ke Luna, memeluk kaki Luna. Luna tersenyum, merasakan kehangatan dan kebahagiaan. "Aku akan merawat dan melindungi kalian berdua," katanya dengan penuh kasih sayang. Bruang Koko mengangguk, menunjukkan rasa terima kasih.


Tiba-tiba Alex datang menodongkan senapan ke arah beruang itu.


Luna terkejut, melompat di depan Bruang Koko dan anaknya. "Jangan, Alex! Jangan tembak!" teriaknya, melindungi beruang tersebut dengan tubuhnya. Alex terlihat bingung, menurunkan senapan. "Luna, apa yang terjadi? Mengapa kamu melindungi beruang ini?"


Luna: "mereka adalah keluargaku".


Alex terkejut, menatap Luna dengan rasa tidak percaya. "Apa? Bagaimana bisa?" Luna menatap Alex dengan mata teguh. "Mereka membutuhkan aku, dan aku membutuhkan mereka. Aku telah menemukan keluarga sejati." Bruang Koko dan anaknya mendekati Luna, menunjukkan kebersamaan yang erat.


Kemudian mereka duduk melingkar, di tengahnya ada api, mereka membakar ikan besar yang ditangkap beruang di sungai tadi.


Mereka duduk bersama, terikat oleh kehangatan api unggun dan aroma ikan bakar yang lezat. Luna tersenyum, merasakan kebahagiaan dan kebersamaan dengan keluarga barunya. Bruang Koko dan anaknya menikmati ikan bakar, sementara Alex memandang Luna dengan rasa penyesalan dan kekaguman.


"Aku tidak pernah tahu kamu begitu kuat dan peduli," kata Alex lembut.


Luna menjawab, "Kamu tidak pernah mencari tahu."


Setelah kenyang makan ikan bakar, mereka tertidur. Pagi datang bersama hangat senyuman mentari.


Pagi itu, sinar matahari memasuki gua, menerangi wajah-wajah yang tertidur. Luna, Bruang Koko, dan anaknya terbangun secara bersamaan, merasakan kehangatan dan kebahagiaan. Alex bangun terakhir, tersenyum melihat ketiganya yang sudah siap memulai hari baru.


"Hari ini akan menjadi hari yang indah," kata Luna, menatap langit biru.


Bruang Koko mengangguk, anaknya melompat-lompat, dan Alex tersenyum, merasakan kebersamaan yang tak terduga.


Mereka berjalan ke hutan, berburu binatang, mencari madu, mencari jamur. Mereka berjalan bersama, menikmati keindahan alam hutan. Bruang Koko memimpin, menggunakan pengalaman dan indera tajamnya untuk menemukan sumber makanan. Luna dan Alex mengikuti, belajar tentang kehidupan liar dan harmoni alam. Anak beruang berlari-lari, mengeksplorasi sekitarnya dengan rasa ingin tahu.


Setelah berburu, mereka duduk di bawah pohon, menikmati hasil buruan dan madu segar. Luna tersenyum, merasakan kebahagiaan dan kebersamaan. "Ini adalah kehidupan yang sempurna," katanya.


Tiba-tiba terdengar suara berisik patahan ranting pohon, mereka mengamati ke arah suara itu, ternyata batu yang sangat besar menggelinding ke arah mereka.


Mereka terkejut, melihat batu besar menggelinding ke arah mereka. Bruang Koko bereaksi cepat, mendorong Luna dan Alex ke samping. Anak beruang juga diamankan oleh Bruang Koko. Batu itu menghantam tanah, menimbulkan debu dan suara keras.


Setelah debu berkurang, Luna bangun, memeriksa apakah semua baik-baik saja. "Terima kasih, Bruang Koko!" katanya dengan lega.


Bruang Koko mengangguk, memeriksa anaknya. Alex membantu Luna berdiri, memandang sekitar untuk memastikan tidak ada bahaya lain.


Namun tubuh beruang berdarah darah. Luna terkejut, melihat luka pada tubuh Bruang Koko. "Bruang Koko! Kamu terluka!" teriaknya, berlari mendekat.


Alex membantu Luna, memeriksa luka tersebut. "Kita harus membersihkan luka ini dan merawatnya," kata Alex.


Bruang Koko menggelengkan kepala, menunjukkan kesabaran. Anak beruang merengek, memeluk kaki ayahnya.


Luna memeluk Bruang Koko. "Kamu akan sembuh, kami ada di sini untuk merawatmu."


Lalu tiba-tiba beruang tak lagi bernafas dan tubuhnya kaku.


Luna dan Alex terpaku, tidak percaya. Mereka menatap Bruang Koko dengan kesedihan mendalam. Anak beruang merengek, memeluk tubuh ayahnya, tidak mengerti apa yang terjadi.


Luna menangis, memeluk anak beruang. "Kami akan merawatmu, anak kecil," katanya, berusaha menenangkan.


Alex menghela napas dalam-dalam, menutup mata Bruang Koko. "Selamat tinggal, kawan," katanya pelan.


Mereka berdua duduk bersama, meratapi kehilangan teman setia itu.


Segerombolan serigala mendekat dan memakan tubuh beruang.


Luna dan Alex terkejut, melihat serigala-serigala mendekati dan memakan tubuh Bruang Koko. Mereka berdua langsung bereaksi, melindungi anak beruang.


"Ayo, kita pergi dari sini!" teriak Alex, mengambil anak beruang dan memeluknya erat.


Luna mengikuti, menatap serigala-serigala dengan mata penuh kesedihan dan marah. Mereka berlari menjauhi tempat itu, mencari keamanan dan kedamaian.


Ketika berlari, Alex tersandung batu dan terjatuh ke jurang yang curam.


Luna terkejut, melihat Alex jatuh ke jurang. Ia berhenti sejenak, memandang ke bawah dengan nafas terengah-engah.


"Alex!" teriaknya, berlari mendekati jurang.


Anak beruang merengek, memeluk Luna. Ia menatap ke bawah, melihat Alex tergantung pada akar pohon yang tipis.


Luna tanpa ragu, segera mencari cara untuk menolong Alex.


Tapi Alex tertawa dan berkata "haha, ini seruuuuu"


Luna terkejut, bingung melihat reaksi Alex yang tidak terduga. "Alex, apa yang terjadi denganmu?! Ini serius!" teriaknya.


Anak beruang merengek, memandang Luna dengan khawatir.


Alex masih tertawa, "Haha, aku selalu ingin mencoba rappelling alami! Ini kesempatan sekali seumur hidup!"


Alex: "kalian pulanglah ke gua, aku akan segera menyusul"


Luna khawatir, "Alex, apa kamu yakin? Aku tidak ingin meninggalkanmu!"


Alex tersenyum, "Tenang, aku bisa mengurus diri sendiri. Pergi sekarang, dan jagalah anak beruang ini!"


Luna ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi jangan lama, ya!"


Luna memeluk anak beruang erat dan berlari menuju gua, menunggu Alex yang berjanji menyusul.


Dua hari menunggu, Alex belum juga kembali. Akhirnya Luna memutuskan untuk kembali ke rumah.


Luna merasa khawatir dan sedih, menunggu Alex selama dua hari tanpa kabar. Ia memandang anak beruang, yang juga terlihat kesepian.


Dengan berat hati, Luna memutuskan untuk kembali ke rumah, membawa anak beruang bersamanya. Ia berharap Alex akan kembali segera dan bergabung kembali dengan mereka.


Saat meninggalkan gua, Luna berbisik, "Kita akan menunggu kamu, Alex."


Tahun tahun berlalu, anak beruang itu telah besar. Namun Alex tak juga terlihat. Dan anak beruang itu kini menjadi seekor beruang dewasa yang kuat dan bijak. Luna merawatnya dengan penuh kasih sayang, namun kesedihan karena kehilangan Alex masih terasa.


Luna sering memandang ke jurang tempat Alex terjatuh, berharap ia kembali. Anak beruang dewasa itu seolah-olah memahami kesedihan Luna dan selalu menemani.


Suatu hari, Luna mendengar kabar tentang seorang petualang yang ditemukan di hutan, mirip dengan Alex. Apakah mungkin?


Namun di tubuh petualang itu ada luka bekas gigitan binatang buas. Dan orang itu mengalami amnesia.


Luna terkejut, melihat luka bekas gigitan binatang buas pada tubuh petualang itu. Ia mendekati, mencari tanda-tanda lain yang mirip dengan Alex.


Petualang itu menatapnya dengan mata kosong, tidak mengenali. Luna bertanya, "Siapa namamu? Dari mana kamu?"


Petualang itu menggelengkan kepala, "Aku... aku tidak tahu."


Luna menyimpan harapan, "Mungkin kamu Alex? Kamu menghilang bertahun-tahun lalu?"


Petualang itu terbengong, mencari kenangan yang hilang.


Lalu datang seorang pria tampan berkuda putih. Ternyata dia adalah Alex.


Luna terkejut, tidak percaya. "Alex? Apakah benar kamu?"


Alex tersenyum, turun dari kudanya. "Luna, aku kembali. Aku ingat semua kenangan kita."


Ia mendekati Luna, memeluknya erat. Anak beruang dewasa itu mengamati dengan lembut.


"Bagaimana kamu bisa selamat?" tanya Luna, masih tidak percaya.


Alex menjelaskan, "Aku diselamatkan oleh suku terpencil setelah jatuh dari jurang. Mereka merawatku, dan aku kehilangan ingatan. Tapi, aku akhirnya ingat semuanya."


Luna gembira, menangis bahagia. "Aku pikir aku kehilangan kamu selamanya."


Lalu mereka menikah.


Mereka menikah di tengah hutan yang indah, dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dan binatang-binatang liar. Anak beruang dewasa itu menjadi "pengantin pria" dan berjalan di samping Alex.


Luna mengenakan gaun putih sederhana, dengan bunga-bunga di rambutnya. Alex mengenakan setelan putih, dengan senyum bahagia.


Mereka bertukar cincin, berjanji saling mencintai seumur hidup. Saat ciuman pertama sebagai pasangan suami-istri, burung-burung berkicau, dan sinar matahari menerangi mereka.


Hidup mereka selanjutnya dipenuhi kebahagiaan, petualangan, dan cinta yang abadi.

Rabu, 03 April 2024

Malam Saat Bintang Jatuh (Cerpen)



Ale yang berusia dua belas tahun selalu tahu bahwa ayahnya berbeda. Ayahnya adalah seorang pemimpi, seorang pria yang melihat keindahan di dunia bahkan ketika masa-masa sulit. Namun ketika Ayahnya kehilangan pekerjaan dan tidak mampu membayar uang sewa, seketika mimpinya terhenti. Pemberitahuan penggusuran tiba, dan Ayahnya yang bingung; mengemas tas kecil, kemudian pergi meninggalkan Ale yang sedang tidur dan meninggalkan catatan yang menyatakan dia akan kembali.

 

Semenjak Ayahnya pergi, Ale telah menghabiskan enam bulan hidup sendiri secara berpindah-pindah dari satu taman ke taman yang lain untuk tidur di malam hari. Sesekali Ale merindukan ayahnya, tapi dia juga merindukan stabilitas memiliki rumah. Dia mendambakan kehidupan normal seperti orang lain, tapi dia tahu itu tidak mungkin terjadi.

 

Suatu hari, ketika sedang mengobrak-abrik tempat sampah untuk mencari makanan, Ale menemukan seorang gadis kecil yang berpenampilan lusuh dan kotor seperti dirinya, gadis itu sedang meringkuk di sudut pertokoan. Gadis itu seperti sedang merasa ketakutan, pakaiannya compang-camping, pandangan matanya kosong. Ale mengajak gadis itu pergi bersamanya, memberikannya makanan dan mencarikan tempat untuk beristirahat.

 

Hari-hari berlalu, kini Ale dan gadis itu sudah menjadi semakin akrab. Oh iya, gadis itu bernama Lucy. Setelah Ale dan Lucy sering mengobrol, Ale menjadi tahu bahwa Lucy hanya satu tahun lebih muda darinya. Lucy juga bercerita bahwa dia telah hidup di jalanan entah sudah berapa lama. Ale dan Lucy menjadi semakin dekat. Mereka berbagi cerita tentang rumah tangga mereka yang berantakan - ayah Ale telah pergi, dan orang tua Lucy bercerai. Mereka menemukan hiburan saat bersama satu sama lain, meskipun keadaan mereka jauh dari ideal.

 

Suatu malam, ketika Ale dan Lucy sedang menjelajahi sebuah bangunan yang ditinggalkan, mereka menemukan sebuah atap yang menghadap ke kota. Pemandangan kerlap-kerlip lampu dan hamparan langit malam yang luas membuat mereka takjub. Ale menunjukkan kepada Lucy ketika ada bintang jatuh, mereka memejamkan mata dan membuat permohonan, dan semoga beruntung. Lucy ragu-ragu, lalu membisikkan keinginannya kepada Ale. "Aku berharap orang tuaku kembali bersama," katanya, suaranya nyaris tak terdengar. Ale mengangguk, memahami kedalaman rasa sakitnya.

 

Hari berganti minggu, ikatan Ale dan Lucy semakin kuat. Ale belajar untuk menjadi lebih tegar, memperjuangkan apa yang diinginkannya, dan berharap untuk masa depan yang lebih baik. Lucy mengajarinya tentang kebaikan, pentingnya keluarga, dan bahkan di masa tergelap sekalipun, selalu ada secercah harapan.

 

Suatu malam, Ale mengajak Lucy ke puncak sebuah gedung tinggi. Dia ingin menunjukkan padanya keindahan lampu-lampu kota, seperti yang dia lakukan pada petualangan atap pertama mereka. Namun kali ini, taruhannya lebih tinggi. Ale punya rencana – mereka akan melarikan diri bersama, melarikan diri dari kenyataan pahit hidup mereka.

 

Saat mereka berdiri di tepian, memandang ke arah kota, Ale merasakan sedikit ketakutan. Dia sadar dia tidak ingin meninggalkan temannya. Tapi bagaimana dia bisa menjelaskan hal itu pada Lucy? Dia sudah melalui banyak hal, dan dia tidak ingin membebaninya dengan masalahnya sendiri. Saat itu, Lucy menoleh ke arah Ale, matanya membelalak penuh pengertian. "Ale," katanya, "Aku tahu keadaan kita berdua sangat sulit. Tapi aku tidak bisa lari bersamamu. Aku harus pulang." Air mata menggenang di mata Ale. Dia berharap persahabatan mereka bisa menjadi tempat perlindungan, tempat di mana mereka bisa melepaskan diri dari keluarga yang hancur dan membangun kehidupan baru bersama. Tapi dia tahu Lucy benar. Dia perlu menemukan jalan kembali ke orang tuanya, untuk mencoba memperbaiki keretakan yang telah memisahkan keluarganya. Dengan berat hati, Ale menyaksikan Lucy berlari di malam hari, menghilang ke dalam bayang-bayang. Dia merasakan kehilangan yang mendalam, namun juga rasa damai yang aneh. Dia tahu persahabatan mereka adalah sebuah anugerah, sebuah jeda singkat di tengah kehidupan mereka yang penuh gejolak.

 

Sejak hari itu, Ale berjanji pada dirinya sendiri - untuk terus hidup, terus bermimpi, dan tidak pernah melupakan malam berbintang ketika persahabatannya dengan Lucy telah menunjukkan kepadanya indahnya harapan.

Senin, 01 April 2024

But (puisi)


This one's for you Lady ale!


My love for you is like the most beautiful potato,

Your face reminds me of charming cat,

Together, we are like steak and sauce.


Oh darling ale,

My beautiful potato,

My charming pepper,

The perfect companion to my steak soul.


Dress are red,

Eye are blue,

I like pretty girls,

But not as much as I love sleeping with you!


Oh darling ale,

Your tit are like funny water on a summer day,

You're like the most sexy model to ever walk bathroom.


Your charming ca face,

Your sauce soul,

Your funny tit,

Your sexy model being...


How could I look at another when our beautiful potato love is so strong?


I love you Lady ale!